Jumat, 14 Juni 2013

Sebuah Elegi



Sebuah Elegi
Andi Makkaraja:

          Seseorang melambaikan tangan ke arahku sambil setengah meneriakkan namaku. Aku menoleh dan melihatnya duduk santai di bawah pohon mangga, tepatnya di atas sebuah kursi kecil setengah jadi. Aku menyebutnya setengah jadi karena kursi itu dibuat tanpa sandaran. Ia melambaikan tangannya, bermaksud memanggilku untuk merapat ke sisinya.
          “Kamu dari mana nak?” Segera ia membuka dialog setelah aku berada di dekatnya. Asap rokok menyembur dari mulutnya. Aku mengipas-ngipaskan tangan untuk mengusir asap rokok tersebut.
          “Dari toko Pak Rahmat beli obat. Disuruh sama bapak.”
          “Memangnya bapak kamu sakit?”
          “Iya om, sakit kepala ringan. Sebentar yah om, aku langsung ke rumah dulu. Sudah ditunggu bapak dari tadi.”
          “Iya nak!” Balasnya singkat.
 Aku senang sekaligus heran atas sikap Om Jafar hari ini. Tak seperti biasanya yang lebih suka diam dan hanya merespon orang-orang dengan anggukan dan gelengan kepala pertanda, ya atau tidak. Aku melangkah sepuluh meter, dua puluh meter, hingga tatapanku yang terakhir sebelum aku menghilang di balik belokan, ada binar cerah di matanya.
          Berselang beberapa menit kemudian aku kembali lagi menemuinya. Ia masih setia duduk sendiri di bawah pohon mangga tadi, tentunya dengan selinting rokok di ujung bibirnya. Kali ini aku membawakannya secangkir kopi, minuman kesukaannya. Jika saja ada pemilihan penggila kopi dan rokok terbaik, maka dengan keyakinan sempurna aku akan bertaruh untuknya, berapa pun itu. Orang sekampung juga telah menghapal kebiasaannya yang lebih mengutamakan kopi dan rokok dibanding makanan, maka ketika Om Jafar datang atau sekedar berkunjung ke rumah-rumah mereka, kopi selalu jadi menu spesial untuknya. Hitam pekat dengan sedikit gula.
          “Kamu datang lagi nak menemani om.”
          “Iya om. Sesuai yang aku janjikan tadi. Ini om aku bawakan kopi.”
          “ Terima kasih banyak nak. Pagi ini aku memang belum minum kopi.”
Om Jafar menyeruput teguk demi teguk kopi itu. Tampak betul bahwa meminum kopi adalah kesukaannya, apalagi jika dipadu dengan sebatang rokok, maka kesempurnaan hidup sepertinya terwakilkan dalam racikan aroma sederhana dan tradisional itu, setidaknya sempurna untuk ukuran orang seperti Om Jafar.
          Pagi itu Om Jafar bercerita banyak tentang hidupnya. Dimulai dari petualangannya merantau ke banyak negeri orang, termasuk Malaysia. Ia bercerita tentang berbagai pengalaman hidupnya, dimulai dari tanah pertama yang diinjaknya ketika meninggalkan kampung, yaitu Pulau Sumatera, sampai perantauan terakhirnya di negeri jiran. Ia juga bercerita tentang kejadian-kejadian yang sempat dialaminya. Orang-orang yang pernah berkawan baik atau pun sempat berkonflik dengannya tak luput dari ceritanya. Saat itu aku menjadi pendengar yang baik atas cerita-ceritanya. “Ingatan Om Jafar masih kuat.” Gumamku dalam hati. Ceritanya berakhir pada tegukan terakhir kopinya lalu ia meminta izin untuk tidur. Aku mengiyakan. Ia pun melangkah meninggalkanku. Aku melihat binar di matanya semakin cerah.
          Selepas Om Jafar kabur dari pandanganku, aku tiba-tiba merasa ada yang kurang dari ceritanya. Tak sedikit pun dari rangkaian ceritanya itu yang menyinggung sosok seorang perempuan. “Apa iya dari rantauan Om Jafar di negeri orang dengan waktu yang cukup lama, ia tak pernah jatuh hati atau sekedar suka kepada seorang perempuan.” Pikirku dalam hati.
****
          Hari ini tepat seminggu aku tak melihat Om Jafar. Biasanya setiap pagi dalam dua atau tiga hari ia selalu berkunjung ke rumahku. Om Jafar adalah sepupu dari ibuku, orang tua mereka saudara kandung, jadi rumahku adalah rumah Om Jafar juga dan akan sangat aneh jika ia tak menginjakkan kaki di sini dalam waktu yang agak lama.
Aku menanyakannya kepada ibu dan bapak tapi tak ada yang benar-benar tahu. Mereka hanya berandai-andai. “Mungkin dia ada di rumah nenek kamu karena selama ini dia tinggal di sana, atau mungkin dia ikut orang lain untuk mencari kerja seperti yang sering dilakukannya selama ini, mungkin juga dia tidak enak badan sehingga harus terus beristirahat di rumah nenekmu.” Dan serangkaian mungkin-mungkin lainnya yang membuatku semakin bingung. Untuk memuaskan rasa penasaran, saat itu juga aku datang ke rumah nenek, tempat Om Jafar tinggal selama ini. Sama seperti ibu dan bapak, nenek juga tidak tahu ke mana Om Jafar pergi.
          “Sudah. Tidak usah khawatir. Dia memang sering seperti itu. Kalau tiba saatnya atau kalau dia rindu dengan rumah, dia pasti akan pulang juga.”
          “Tapi ini sudah lama nek, satu minggu.”
          “Yah, kita tunggu saja. Dia pasti akan pulang.” Kata nenek yakin yang juga sedikit melegakan perasaanku. 
***
          Aku pernah bertanya kepada ibu tentang sikap Om Jafar yang selalu murung. Kata ibu, Om Jafar memang orangnya seperti itu, tapi salah satu sikapnya yang tidak suka bicara bertambah parah ketika ibu dan saudara perempuannya meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan. Om Jafar punya adik laki-laki tapi sudah puluhan tahun mereka tidak pernah bertemu. Terakhir bertemu ketika mereka masih tinggal serumah dalam perantauan di Sumatera. Om Jafar memutuskan meninggalkan adiknya dan pergi ke Malaysia karena hubungan mereka tidak akur lagi. Sementara itu bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ditambah dengan kesendiriannya dalam usia 40 tahun lebih, maka akan sangat wajar dan mudah dipahami jika sikap Om Jafar memang lebih banyak diam dan murung. Lirikan matanya yang penuh binar cerah dan canda tawa lepas beberapa hari lalu terlintas lagi di pikiranku. “Itukah Om Jafar yang sebenarnya?”
****

          Adzan shalat jum’at berkumandang. Aku menghentikan laju motorku dan memarkirnya di halaman mesjid. Keinginan untuk melaksanakan shalat jum’at di kampung halaman sepertinya harus kutunda dulu sampai jum’at depan. Aku meletakkan tas berisi buku-buku kuliahku di teras mesjid itu lalu melangkah ke tempat wudhu. Aku membasuh seluruh tubuh dengan air sebelum melangkah ke dalam mesjid dan melaksanakan shalat jum’at secara berjamaah. Di dalam mesjid aku bertemu dengan Om Jafar. Matanya tak secerah beberapa hari lalu, tapi wajahnya menyinarkan sesuatu. Aku melangkah mendekatinya dan duduk di sampingnya. Ia baru menyadari kedatanganku ketika ia selesai shalat.
          “Om ke mana aja?” Tanyaku berbisik.
          “Om tinggal di desa ini nak.” Jawabnya dengan senyum merekah. Mungkin ia juga senang melihatku.
          “Tinggal sama siapa?”
          “Om kerja jadi kuli bangunan, jadi om tinggal di rumah orang yang mempekerjakan om.”
          “Kenapa om tidak pernah pulang? Ibu, bapak, dan nenek mengkhawatirkan om.”
          “Om tidak bisa pulang nak sampai pekerjaan om selesai.”
          “Tapi om kan bisa ngasih kabar.”
          “Bagaimana caranya? Om tidak pernah ketemu dengan orang sekampung.”
Seorang jemaah memberi isyarat kepada kami untuk mengecilkan suara. Pembicaraan kami tertunda. Khatib naik ke mimbar untuk mulai berkhotbah. Suasana mesjid pun menjadi lebih khidmat, semua jemaah diam, termasuk aku dan Om Jafar.
Setelah selesai melaksanakan shalat jum’at, aku pamit kepada Om Jafar untuk pulang ke rumah, sementara itu ia beranjak ke tempat kerjanya.
****
          Beberapa hari berikutnya, aku menemukan Om Jafar di bawah pohon mangga, tempat di mana ia sering duduk sendiri. Ia melihatku tapi tak memanggilku, aku lalu berinisiatif sendiri untuk mendekat ke arahnya. Ketika berada lebih dekat, ia melirikku sejenak sebelum menumbukkan pendangannya pada tanah kosong di depannya. Tatapannya kosong, bahkan nyaris tanpa kedipan. Mulutnya bisu. Ia hanya tertunduk. Tubuh kurusnya dan rambut gonrongnya kelihatan lusuh. Gersang, tanpa kehidupan.
          “Sudah lama pulangnya om?” Aku bertanya sekedar berbasa-basi untuk memancing ceritanya. Tapi ia hanya menjawabku dengan anggukan kepala. Pelan, pelan, dan pelan lalu kembali diam. Mulutnya terkunci rapat dan hanya terbuka jika lintingan rokoknya dijepitnya di antara kedua bibirnya, bukan untuk bicara. Aku tak melihat ada kopi di dekatnya. Aku pulang ke rumah lalu kembali lagi dengan secangkir kopi. Ia segera meminum kopi itu. Seteguk kopi ternyata hanya mengantarkannya untuk diam. Aku bergumam, ini bukan Om Jafar yang tempo hari duduk bersamaku di tempat ini atau mungkin memang seperti inilah Om Jafar, tapi siapa yang dulu duduk bersamaku di sini? Sepertinya hal-hal yang selalu mengganggu pikiran Om Jafar selama ini kembali lagi dan membuatnya menjadi manusia tampa bicara, tanpa ekspresi, dan tanpa senyum.
          Esoknya, aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berat meninggalkan Om Jafar. Sebelum berangkat, aku menemuinya di bawah pohon mangga. Aku membawakannya dua bungkus rokok dan sebuah telepon genggam sederhana. Bekas teleponku yang masih bagus sampai sekarang. Aku sengaja menyiapkannya untuk Om Jafar agar ia bisa memberikan kabar kepada ibu atau bapak jika pergi lagi dan juga untuk mengusir rasa sepinya karena walaupun sederhana, telepon genggam itu bisa dipakai untuk memutar lagu. Aku lalu mengajarinya cara menggunakan handphone itu. Ia menyimak kata-kataku dan sebuah senyum terlukis di wajahnya. Kembali binar cerah menghiasi matanya.
***
          Dua bulan kemudian, aku kembali ke kampung. Belum sejam aku mengistirahatkan tubuhku setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, aku langsung meminta izin ibu untuk menemui Om Jafar. Aku tidak bisa tenang sebelum menemuinya. Kata ibu, sejak kemarin Om Jafar tinggal dan bermalam di kebun nenek. Ia membantu nenek menjaga kebun jagungnya dari gangguan babi hutan.
          Aku berada di tengah kebun itu. Aku berteriak memanggil Om jafar tapi tak ada jawaban, hingga aku sampai di sebuah pondok kecil yang ada di kebun itu. Suasananya dingin dan mencekam. Di dalam pondok itu ada juntaian kaku sepasang kaki, pucat. Darah dan jantungku tergerak tanpa kontrol. Aku melompat ke dalam. Tubuh Om Jafar tergantung di dalam pondok itu. Lilitan tali mencekik lehernya. Aku segera melepaskan tali itu dan menurunkan lalu membaringkan tubuhnya. Aku memeluk tubuhnya. Tubuh jangkung dan kurus itu mengeluarkan hawa dingin, sangat dingin. Air di mataku mengalir dan menetesi wajahnya yang keriput. Aku membelai rambutnya sambil terus menangis. Handphone di kantong bajunya masih terus melagu, menyanyikan lagu kenangan. Aku mengeluarkan handphone itu. Sebuah pesan singkat yang gagal terkirim, atas namaku.
                                      “NAK, KAPAN KAMU PULANG?”
                                      APA KAMU JUGA INGIN
                                      MEMBIARKANKU SENDIRI?”
                                     

Jumat, 19 April 2013

Deja Vu


DEJA VU
Andi Makkaraja:

Hujan menangis. Seperti itulah aku memikirkan hujan kali ini. Derasnya menumpah tepat beberapa detik setelah aku dan orang-orang menguburkan diriku dalam liang yang tanahnya kini menjadi becek dan berair. Mungkin besok dan nanti tak ada hari lagi sebab hujan kali ini betul-betul merampas hak matahari dan menjadikannya tanpa wujud. Hilang serupa malam. Aku menyaksikan kuburanku sendiri. Air keluar dari setiap sisinya. Mungkin tanah di atasku itu yang kini telah mencair tak kuat menampung jutaan volume air yang terus mengalirinya, atau mungkin ia juga menangis?
Tak cukup dengan air langit yang terus membumi, suara yang penuh dengan nada samar datang beriringan dengannya. Aku tak mengerti apa yang dibunyikannya atau yang ingin dikatakannya, tapi suatu masa aku menangkap bunyi sirine mobil pengantar jenazah terselip di antara raungannya. Aku mengabari diriku tentangnya, ia pun berduka.
Aku menyudutkan tubuh pada tepi kamar. Ingin kukutuk air yang terus menghujaniku dan petir yang terus meneriakiku.

***
            Seseorang menghampiriku. Mataku yang sembab tak mengenalinya. Seperti kanvas yang tak tersentuh kuas, wajahnya putih dan kosong. Aku tak menemukan sedikit goresan di sana. Betul-betul kaku dan dingin. Berikutnya, dari jarak yang tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat dari mataku, terlihat wajahnya mulai bercerita. Bibirnya digerak-gerakkan seperti ingin melafalkan sesuatu, tapi telinga dan mataku tak mampu menerjamahkannya. Aku kalap.

***

            Aku merasakan tubuhku membatu. Beku. Gemetar menahan dingin. Tulangku terasa nyeri seperti tertusuk-tusuk duri. Pori-poriku mengeluarkan air, tapi aku merasaknnya panas. Keringat panas.
            Beberapa jam lamanya, aku tetap dengan keadaan itu, terbaring kaku. Aku mulai menghapal kejadian-kejadian sama yang selalu berulang setiap jam-nya di ruangan beukuran sedang dan putih itu.  Aku juga mulai menghapal wajah-wajah yang selalu datang bergiliran menemaniku. Aku tak bisa mengingat jumlahnya tapi mereka semua serupa. Berambut panjang dan indah, berwajah cerah dengan mata dan bibir selalu tersenyum, potongan baju mereka pun selalu sama dan semuanya berwarna putih bersih.

***

            Tubuhku terbentur di sudut kursi. Seseorang melemparku dengan keras ke dalam ruangan yang lebih pantas di sebut neraka. Atau mungkin memang inilah neraka yang sering disebut-sebut para penceramah dalam dakwahnya. Mungkin tempat ini sudah menjadi neraka jauh sebelum aku menamainya neraka dan berada di dalamnya. Pengap dan gelap.
            Aku mencium bau keringat dan bukan dari tubuhku. Mungkin ada orang lain di tempat ini. Aku meraba-raba sisi tembok yang kasar dan gelap itu.
            “Siapa di sana?” Teriakku. Suaraku terpantul dan menanyaiku balik dengan pertanyaan yang sama. Aku mengulang kembali enam sampai delapan kali tapi tetap tak ada jawaban.
            “Weh bocah sialan, hentikan! Telingaku sakit mendengar suaramu.” Seseorang menggertakku dari luar. Penjaga ruangan ini.
            “Siapa yang kau sebut bocah? Dasar kacung tolol.”
            “Apa? Kau memanggilku kacung?” Suaranya meninggi.
            “Iya kacung! Kenapa?”
            “Coba kau ulang sekali lagi!”
            “K A – C U N G!!!”
            Wajahnya memerah. Matanya melotot tajam. Napasnya tersengal-sengal. Nampaknya ia betul-betul ingin menelanku bulat-bulat. Ia lalu duduk kembali, setelah sempat bediri tegang. Aku merasa menang.

***

            Sebelumnya. Di ruangan putih.
            Empat orang berpakaian rapi datang mengerumuniku. Kali ini aku melihat seorang yang beda di antara mereka. Tak berambut panjang dan indah, tak bertubuh anggun, dan tak berwajah cerah seperti yang lainnya. Ia justru bertubuh gempal, berkulit agak gelap, dan aku tahu ia seorang lelaki. Ia menyunggingkan senyum ke arahku. Samar-samar aku mendengar ia membisikkan sesuatu kepada salah seorang rekannya. Perempuan itu lalu beranjak pergi dan kembali dengan beberapa benda asing di tangannya. Aku mengamati mereka dengan mata bergerak-gerak ke sana kemari. Lelaki gempal itu terlihat membisikkan sesuatu lagi, tapi kali ini bukan hanya kepada perempuan tadi, tetapi juga kepada dua rekannya yang lain. Sepertinya ada kesepakatan di antara mereka. Ketiga perempuan itu lalu merapat ke arahku. Salah seorang di antara mereka mengutak-atik tempat tidurku. Beberapa selang kemudian mereka mendorong tempat tidurku dan membawaku pergi.
            “Tinggalkan aku sendiri. Biarkan aku di sini. Jangan membawaku pergi.” Aku meronta. Aku tak ingin meninggalkan ruangan putih itu. Mereka tak mempedulikan kata-kataku. Mereka tak mempedulikanku. Seperti singa yang nyaris kehilangan akal karena tertarik kemolekan rusa yang menari di depannya, aku dengan gila menerkam salah seorang di antara mereka. Kemarahan membuatku lupa diri dan tak mengingat semua kejadian setelah itu, sampai seseorang menyeretku ke sebuah ruangan yang kunamai neraka.

***

            “Pergi sana. Kami tak tahan dengan tingkahmu. Anjing!” Gerutu penjaga neraka yang tiap harinya beradu mulut denganku.
            Aku tersenyum puas. Terbebas dari neraka yang selama ini menyangkarku. Neraka pun menyerah kepadaku.

***

Esoknya.
            Aku tiba di tempat yang kusebut surga. Kuketuk pintunya. Berkali-kali, tak ada jawaban. Aku teringat, aku pernah menyimpan kuncinya di bawah pot bunga. Kugeledah dasar pot itu dan aku menemukan yang kucari. Segera kubuka pintunya. Suasana lengang, sunyi, dan berdebu menyambutku.
            “Ayah!”
            “Ayah! Aku pulang.” Aku terus memanggil ayah dan berjalan ke setiap sisi rumah itu. Semua tempat kosong dan akhirnya aku sampai di depan kamarku. Aku membuka pintunya dan kenangan tentang aku, ibu, dan ayah kembali memutar di otakku. Dari balik jendela yang tingginya tak seberapa, aku melihat dua buah batu nisan saling berdampingan. Aku tak mengenali gundukan tanah di sebelah kuburan ibu. Aku melangkah ke pojok kamar hingga berdiri tepat di muka jendela. Tulisan di nisan itu pun semakin jelas. Aku mengejanya, I-S-M-A-I-L.
Seketika bening di mataku terurai dan mengkristal begitu saja. Menetes seperti butiran kerikil. Mengalir dan hanya sebutir. Tertahan oleh ngilu yang menggema dan mengganggu setiap ruang tubuhku hingga tak terkira perihnya.
            “Jadi di sinilah kau sekarang ayah? Kau lebih memilih bersama ibu.”

***

            Dulu, ibu kusebut aku. Kematian ibu kuanggap kematianku. Kuburan ibu kumaknai kuburanku. Tapi sekarang kematianmu serupa kiamat. Aku tak ingin berbicara kepada dunia lagi, sebab kau memang mengajarkanku untuk diam.

Senin, 15 April 2013

Cerpen Andi Makkaraja


Sesuap Nasi untuk Istriku
Andi Makkaraja:

Lelaki tua itu melempar bungkus rokoknya ke tanah. Tangannya kosong. Mungkin bungkus rokoknya juga kosong. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Pandangannya tertumpu pada satu objek. Matanya focus pada genangan air keruh dan berlumpur di depannya. Semenit, ia tak bergeming. Menit berikutnya, matanya masih menatap tajam. Tiga menit berselang, masih. Menit-menit berikutnya, ia masih betah. Kejadian itu bertahan selama kurang lebih lima belas menit. Tapi tak ada yang benar-benar tahu, apa ia memang melihat, sekedar menatap, atau tatapannya kosong tanpa proses pikir, atau mungkin juga tanpa kesadaran fisik. Aku justru melihatnya ia hanya seonggok daging, lengkap dengan tulangnya, tapi tanpa roh.
          Aku menyeruput secangkir kopi yang ku pesan tadi. Aku jadi bosan dengan pak tua itu. Aku tak memperhatikannya lagi.
          Saat ketertarikanku kepadanya hamper hilang, ia lalu menggodaku kembali. Ia melintas di hadapanku. Menghampiri penjual nasi bungkus. Merogoh kantongnya lalu mengeluarkan dua lembar uang seribuan. Menyodorkannya ke penjual.
                   “Mau beli apa?” Si penjual setengah menggertak.
                   “Gado-gado satu bungkus.”
                   “Uangmu cukup?”
                   “Ini.”
                   “Apa itu?”
                   “Aku baru punya ini.Tiga ribunya aku bayar sebentar.”
                   “Tidak bisa.”
                   “Tolong.”
                   “Tidak.”
                   “Aku butuh ini. Tolong.”
                   “Kamu butuh makan, aku butuh uang. Kita sama-sama susah pak.”
                   “Selebihnya aku bayar sebentar.”
                   “Mau ambil uang dari mana? Hutangmu yang kemarin saja belum kau bayar.”
          Pak tua terdiam. Ia bungkam oleh pertanyaan si penjual pada akhir debat mereka. Ia meninggalkan penjual.   Langkahnya tertatih. Aku menyaksikan pembicaraan mereka dengan ketersinggungan luar biasa dan kemarahan yang membuncah-buncah. Ingin rasanya kulebamkan mulut penjual sombong itu dengan pukulanku. Sementara itu, pak tua semakin jauh. Kepalanya yang menunduk kian menegaskan tubuhnya yang bungkuk, rapuh, dan renta oleh waktu. Ia menghilang di balik tembok.
          Aku memesan dua bungkus gado-gado. Bukan pada penjual yang tadi, tapi pada penjual di sampingnya. Aku muak dengannya. Kusodorkan selembar lima ribuan dan selembar dua ribuan. Lebih murah. Kumasukkan bungkusan itu ke dalam ranselku lalu berjalan mengikuti langkah pak tua. Aku menikung di balik tembok tempat ia menghilang tadi. Mataku liar mencari-cari. Aku melihatnya terbaring lemas di atas kursi yang panjang, tepat di bawah pohon berukuran lumayan besar. Matanya meraba-raba dan mungkin berusaha membacaku. Aku duduk di dekatnya. Ia masih terbaring dan diam.
                   “Ini pak. Aku beli dua. Satu untuk bapak dan satu untuk aku.” Kataku sambil menyodorkan sebungkus gado-gado.
Ia menatapku sejenak, tapi dengan sorot mata lebihbaik.
                   “Ini pak. Ambillah!”
                   “Terimakasih.” Ucapnya sambil meraih bungkusan itu dari tanganku. Dengan senyum lalu kembali diam. Aku membuka bungkusan gado-gadoku dan menyantapnya. Tapi pak tua tetap diam. Memangku bungkusan makanannya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ia akan membukanya.
                   “Kenapa gado-gadonya tidak dimakan pak? Mari kita makan bersama.” Ajakku.
                   “Tidak ada apa-apa.” Jawabnya lalu kembali diam.
                   “Lho, bukannya bapak lapar?”
                   “Iya.”
                   “Lalu kenapa tidak dimakan?”
                   “Sebentar. Aku mau tidur dulu.”
Aku terdiam. Pak tua terdiam. Ia kembali berbaring. Memeluk bungkusan itu dan tidur.

****

          Beberapa hari berikutnya. Seperti biasa, sepulang dari kampus, aku langsung naik angkot dan turun di terminal. Panas yang menyengat. Terminal sesak. Mobil saling bersenggolan, apa lagi manusia. Lahan yang bagus untuk para pengemis dan bocah-bocah pembersih mobil angkutan umum. Aku mencoba menjauh dari kumpulan mobil dan manusia itu. Duduk sendiri di bawah pohon. Tenggorokanku kering. Kuperiksa dompetku. Cuma ada lima ribu rupiah. Sepertinya hanya cukup untuk dua hari. Aku harus berhemat, maka the gelas menjadi pilihan paling realistisku. Lapar tak jadi soal, yang penting dahagaku bisa kuhilangkan.
          Saat the gelasku hanya tersisa seteguk, seseorang berjalan ke arahku. Tubuh yang membungkuk dan kulit yang telah mengeriput mengingatkanku tentang siapa ia.
                   “Assalamualaikum nak!” Sapanya dengan senyum sumringah. Pak tua yang tempo hari sangat lusuh dan kusut, kini Nampak lebih segar.
                   “Waalaikum salam pak! Mari duduk di sini.”
                   “Iya nak.” Ia lalu menyandarkan tubuh bungkuknya, sembari mengeluarkan sebuah bungkusan sedang dari kantong besar yang dibawanya.
                   “Ini nak, gado-gado. Pasti kamu lapar.”
                   “Ini apa pak?” Tanyaku heran.
                    “Sudah. Ambillah! Aku mau membalas budimu.”
                   “Bapak makan apa?”
                   “Masih ada dua bungkus lagi. Untuk bapak dan istri bapak.”
                   “Oh. Jadi bapak punya istri?”
                   “Iya. Dia menunggu bapak untuk membawa pulang makanan ini.”
                   “Oh gitu pak. Anak bapak mana? Kenapa bapak yang kerja? Kenapa bukan dia saja?” Tanyaku sambil menerima bungkusan makanan itu.
“Anak bapak sudah meninggal nak. Sekitar sebulan yang lalu, jadinya Cuma tinggal kami berdua.”
“Jadi bapak tinggal di mana?”
“Di sana?”
“Di sana mana pak?”
“Yah di sana. Kalau gitu bapak pamit dulu. Istri bapak sudah lama menunggu.”
“Iya pak. Makasih atas makanannya.”
“Iya nak. Assalamu alaikum.” Tutupnya lalu pergi.
“Waalaikum salam.”
          Aku lalu menyantap gado-gado itu, sementara itu pak tua berjalan meninggalkan terminal. Aku melihatnya berhenti di tepi jalan. Tampaknya ia ragu-ragu menyeberangi jalan. Aku masih melahap makananku. Tiba-tiba sebuah sepeda motor hilang kendali. Kencang dan melaju ke arah pak tua yang berdiri di tepi jalan. Tubuh yang renta dan tua itu terserempek tepat di ujung mataku. Makanan di mulutku seketika menghambar dan kuhamburkan keluar . Aku berlari mendekati tubuh pak tua yang terkulai di atas tanah. Tubuhnya berlumuran darah. Bungkusan makanannya berserakan di mana-mana. Sekilas dari seberang jalan, aku melihat seorang perempuan tua berteriak histeris dari dalam kardus yang disusun menyerupai gubuk.
                   “Bapak……..!!!!!!!!” Tangisnya pecah dalam teriakan dan tubuh kakunya.
Herlang, 27 Maret 2013